blog ini berisi tentang kumpulan beberapa tanaman yang mungkin kalian belum pernah melihatnya secara langsung. disini kalian akan mendapatkan informasi yang banyaaaakkkkkk......sekali tentang tanaman unik.

Jumat, 27 April 2012

Laporan Analisis Vegetasi Alami dan Buatan

LAPORAN ANALISIS VEGETASI 
ALAMI DAN BUATAN 



Shoma Adhi Wijaya 
Sella Desi Anggraini 
Izati Khoirina 
Dewi Anggraini

                                       Vegetasi buatan                                 Vegetasi alami

A. Data Percobaan

Tabel hasil pengamatan komponen biotik
pada ekosistem alami
TUMBUHAN
No
Parameter
Ekosistem alam
Plot 1
Plot 2
Luas penutup (%)
Jumlah
Luas penutup (%)
Jumlah
1
Phyllanthus emblica L.
10 %
60


2
Eleusine indica (L.) Gaertn
50 %
298


3
Cyperus rotundus L.
3 %
18


4
Wedelia trilobata (L.) Hitchc
2 %
12


5
Euphorbia dentata Michx
1 %
6


6
Wedelia trilobata (L.) Hitchc
25 %
149


7
Echinochloa colona (L.) Link.
4 %
24


8
Phyllanthus niruri L.
2 %
12


9
Cyperus kyllingia Endl.


24 %
55
10
Imperata cylindrica (L.) Beauv


13 %
30
11
Vernonia Schreb.


3 %
7
12
Ageratum conyzoides L.


2 %
5
13
Peperomia pellucida (L.) H.B.K


5 %
11
14
Phyllanthus buxifolius Muell.Arg


1 %
12
15
Marsilea crenata Presl


7 %
16
16
Salacca zalacca (Gaertn.) Voss


1 %
1
17
Tanah
3 %

44 %
2
TOTAL
100 %
579
100 %
128
HEWAN
1
Semut
24,25 %
13
12%
8
2
Kumbang
2,25 %
1
-
-
3
Kupu-kupu
2,25 %
1
-
-
4
Nyamuk
2,25 %
1
-
-
5
Capung jarum
-
-
2 %
1
6
Lalat
-
-
2 %
1
7
Komponen non flora
69%
-
84%
-
TOTAL
100 %
16
100 %
10
  
Tabel hasil pengamatan komponen biotik
pada ekosistem buatan
TUMBUHAN

No
Parameter
Ekosistem buatan

Plot 1
Plot 2

Luas penutup (%)
Jumlah
Luas penutup (%)
Jumlah

1
Axonopus compressus (Sw.) P.Beauv.
36 %
18
66,67 %
20

2
Dracaena reflexa Lam.
22 %
11
3,3 %
1

3
Dieffenbachia amoena
8 %
4



4
Agloenema Var.pride of sumatra
14 %
7



5
Aglaonema commutatum
20 %
10



6
Bromeliands sp.


13,33 %
4

7
Dracaena marginata Lam.


16,67 %
5

TOTAL
100 %
50
100 %
30

HEWAN

1
Capung
0,5%
1


2
Semut


0,5 %
1
3
Komponen non flora
99,5%

99,5%

TOTAL
100 %
1
100 %
1



Tabel hasil pengukuran komponen abiotik
pada ekosistem alami dan buatan
No
Parameter
Ekosistem alami
Ekosistem buatan
Plot 1
Plot 2
Plot 1
Plot 2
1
pH tanah
6,9
6,5
6,3
5,9
2
Suhu tanah
27oC
27oC
29oC
30oC
3
Kelembapan tanah
5.8
5,8
5,6
5,6
4
Suhu udara
32,6oC
32,8oC
32,2oC
32,4oc
5
Kelembapan udara
63%
63%
73%
74%

B.  Analisis

Berdasarkan data percobaan di atas, pada tabel pertama dapat diketahui bahwa komponen biotik pada ekosistem alami sangat beranekaragam. Dimana banyak terdapat spesies tumbuhan dan hewan. Sebagian besar dari spesies tumbuhan pada ekosistem alami ini adalah tumbuhan liar atau rumput-rumputan. Dari percobaan yang kami lakukan pada plot pertama terdapat 8 spesies dengan jumlah total 579 tanaman. Spesies  Eleusine indica (L.) Gaertn yang mendominasi pada plot ekosistem alami yang pertama, dengan jumlah spesies sebanyak 298 dengan prosentase luas penutup sebesar 50%. dan spesies yang jumlahnya paling sedikit adalah Euphorbia dentata Michx dengan jumlah 6 tanaman dan dengan presentase luas penutup adalah 1% . Pada plot ekosistrem alami kedua didominasi oleh spesies tumbuhan Cyperus kyllingia Endl. Sebanyak 55 dengan prosentase luas penutup sebesar 24%, hal ini dikarenakan luas tanah yang tidak ditumbuhi vegetasi lebih banyak, sebesar 44%. Serta spesies yang jumlahnya paling sedikit adalah Salacca zalacca (Gaertn.) Voss  hanya terdapat 1 tumbuhan dan luas penutupnya adalah 1%. Sedangkan spesies hewan yang terdapat pada ekosistem ini sebagian besar adalah serangga. Seperti semut atau nyamuk, semut terdapat banyak pada plot yang pertama dengan luas penutup 24,15%. Dan jumlahnya sangat banyak. Pada
Berdasarkan pada tabel ke dua merupakan ekosistem buatan dimana komponen-komponen yang tersusun dalam ekosistem tersebut sudah tertata dengan rapi dan kebanyakan komponen yang menyusunnya spesies tumbuhan hias dan tersusun rapi sehingga terlihat indah dan menatik. Pada ekosistem ini keanekaragaman dari flora sendiri sangat terbatas. Pada plot pertama pada ekosistem buatan dapat dilihat pada tabel bahwa spesies tumbuhan yang tumbuh sangat terbatas dan merupaka spesies tanaman hias. hal ini dibuktikan dengan hanya terdapat 5 spesies yang tumbuh di daerah plot ini. pada plot yang pertama tumbuhan yang mendominasi adalah rumput karpet atau (Axonopus compressus (Sw.) P.Beauv.) dengan jumlah yang sangat banyak yaitu 18 tanaman. Dangan presentase luas penutup adalah 36% sehingga mendominasi luas penutup yang ada di plot tersebut. Spesies yang jarang tumbuh pada plot pertama adalah tumbuhan (Dieffenbachia amoena) dengan jumlah spesies 4 tumbuhan dan presentase luas penutup adalah 8%. Pada ekosistem buatan pada plot ke dua tidak beda jauh dengan plot pertama. yang mendoninasi adalah tanaman hias. Yang paling banyak terdapat pada plot kedua adalah sama yaitu rumpur gajah mini atau (Axonopus compressus (Sw.) P.Beauv.) dengan jumlah lebih banyak dari plot pertama yaitu 20 tumbuhan dengan luas penutup 66,67%. Sedangkan tumbuahan yang jumlahnya sangat sedikit dibanding yang lain adalah tumbuhan dengan spesies Dracaena reflexa Lam. dengan jumlah 1 tumbuhan dan presentase luas penutup adalah 3,3 %. Sedikitnya spesies tumbuhan juga mempengaruhi jumlah flora yang hidup pada lingkungan tersebut dengan dibuktikan bahwa pada plot pertama hanya terdapat seekor semut dan pada plot yang kedua hanya terdapat seekor capung jarum.

C.  Diskusi
Ekosistem alami adalah ekosistem yang terbentuk secara alami tanpa adanya campur tangan manusia. Sedangkan agroekosistem adalah ekosistem binaan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan sandang pangan dan keperluan lainnya. Ekosistem alamiah merupakan ekosistem yang stabil dibandingkan dengan ekosistem pertanian karena memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi (Tarumingkeng, 1994 : 7). Stabilitas ini terbentuk dan terjaga karena adanya dua unsur penting yang bekerja, yaitu mekanisme umpan balik negatif dan mekanisme pengendalian populasi dalam ekosistem. Mekanisme umpan balik negatif adalah mekanisme yang membawa sistem menuju ke keadaan ideal. Mekanisme pengendalian populasi dalam ekosistem adalah mekanisme pengendalian yang mengatur naik turunnya populasi, dimana ada dua kekuatan yang mengaturnya yaitu kemampuan hayati (potensi biotik) dan hambatan lingkungan (Untung, 2003 : 53). Sedangkan Ekosistem pertanian (agroekosistem) memiliki keanekaragaman biotik dan genetik yang rendah dan cenderung semakin seragam, sehingga tidak stabil dan ini memacu terjadinya peningkatan populasi hama. Agroekosistem merupakan salah satu bentuk ekosistem binaan manusia yang dikelola semaksimal mungkin untuk memperoleh produksi pertanian dengan kualitas dan kuantitas yang sesuai kebutuhan manusia (Pedigo, 1996 : 335).
Perbedaaan ekosistem alami dan ekosistem buatan (agroekosistem) dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut :

Tabel 4.1 Karakteristik Ekosistem Alami Dan Ekosistem Buatan Manusia(Agroekosistem)
Komponen
Ekosistem Alami
Ekosistem Buatan
(Agroekosistem)
Abiotik
·           Erosi
·           Serasah
·           Daya serap
·           Temperatur tanah
Biotik
·         Aktivitas organisme
·         Diversitas Tanaman
·         Diversitas genetika

Rendah
Tinggi
Tinggi
Rendah

Tinggi
Tinggi
Tinggi

Tinggi
Rendah
Rendah
Tinggi

Rendah
Rendah
 Rendah
Sumber : Mahrub (1999 : 28)
Monokultur, tumpang sari dan aneka tani merupakan salah satu bentuk system pertanian dalam agroekosistem.
Pertanaman tunggal atau monokultur adalah salah satu cara budidaya di lahan pertanian dengan menanam satu jenis tanaman pada satu ar­eal.  Kelebihan sistem ini yaitu teknis budidayanya relatif mudah karena tana­man yang ditanam maupun yang dipelihara hanya satu jenis. Di sisi lain kelema­han sistem ini adalah tanaman relatif mudah terserang hama maupun penya­kit. Tumpang sari adalah suatu bentuk pertanaman campuran (polyculture) berupa pelibatan dua jenis atau lebih tanaman pada satu areal lahan tanam dalam waktu yang bersamaan atau agak bersamaan. Tumpang sari yang umum dilakukan ada­lah penanaman dalam waktu yang hampir bersamaan untuk dua jenis tanaman budidaya yang sama, seperti jagung dan kedelai, atau jagung dan kacang tanah. Ke­untungan menggunakan sistem tumpang sari adalah meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya alam, mengurangi erosi, dapat diperoleh berbagai jenis hasil, menambah kesuburan tanah jika ditumpang sarikan dengan tanaman Legu­minosae, mencegah serangan hama penyakit selama semua komoditas dalam tumpang sari tidak saling menjadi inang hama tanaman yang satu terhadap hama tanaman yang lain. Kekurangan sistem tumpang sari adalah apabila pemilihan jenis tanaman tidak sesuai, sistem tumpang sari dapat memberi dampak negatif, misalnya : Terjadi persaingan unsur hara antar tanaman, OPT banyak sehingga sulit dalam pengendaliannya.
Kalau diingat bahwa pada saat ini ada kecenderungan makin mahalnya penyediaan energi maka akan terlihat kecenderungan juga makin mahalnya sub­sidi energi bagi agroekosistem. Atas dasar kecenderungan-kecenderungan tersebut, maka perlu adanya usaha-usaha untuk lebih efisien dalam bidang pertanian. Salah satu contoh dari usaha mengefisiensiensikan energi dalam bidang pertanian ialah dengan cara usaha tani tumpang sari dan aneka tani. Cara ini ternyata merupakan cara bertani yang umum dilaksanakan di daerah-daerah yang tradisional dan bukan di lahan pertanian yang modern.

D. Pembahasan 
Ekosistem merupakan topik utama dalam praktikum yang kami lakukan. Dalam hal ini ekosistem dibagi manjadi dua yaitu ekosistem buatan dan ekosistem alami, kedua ekosistem ini memiliki karakteristik tersendiri dalam ruang lingkup ekosistem tersebut. Dilihat dari komponen biotik dan abiotiknya ekosistem lebih kaya akan komponen biotik dan abiotiknya. Hal ini dikarenakan ekosistem alami tumbuh secara alamiah dan interaksi antara komponen biotik dan komponen abiotik terjadi secara tersendirinya, sehingga keanekaragaman komponen biotiknya sangat tinggi. Lain halnya dengan ekosistem buatan, komponen biotik dan komponen abiotiknya tersusun secara buatan sehingga komponen biotik dan abiotik tidak berinteraksi secara alamiah, hal ini mengakibatkan pertumbuhan hubungan antara komponen biotik dan abiotik kurang meksimal sehingga ketidak seimbangan kondisi lingkungan yang ada pada komponen ekosistem buatan. Hal ini berpengaruh terhadap keanekaragaman komponen biotik baik spesies tumbuhan maupun spesies hewan yang mendiami suatu ekosistem buatan tersebut.
Tabel 5.1 Karakteristik Ekosistem Alami Dan Ekosistem Buatan Manusia(Agroekosistem)
Komponen
Ekosistem Alami
Ekosistem Buatan
(Agroekosistem)
Abiotik
·           Erosi
·           Serasah
·           Daya serap
·           Temperatur tanah
Biotik
·         Aktivitas organisme
·         Diversitas Tanaman
·         Diversitas genetika

Rendah
Tinggi
Tinggi
Rendah

Tinggi
Tinggi
Tinggi

Tinggi
Rendah
Rendah
Tinggi

Rendah
Rendah
Rendah
Sumber : Mahrub (1999 : 28)
Dari tabel diatas dapat dilihat perbedaan antara komponen biotik dan abiotik pada ekosistem alami dan ekosistem buatan. Pada komponen abiotik pada tanah ekosistem alami dan ekosistem buatan memiliki keunggulannya masing-masing. Pada ekosistem alami kemungkinan terjadinya erosi sangat rendah tetapi pada ekosistem buatan kemungkinan terjadi erosi sangat tinggi. Hal ini bisa terjadi dikarenakan pada ekosistem alami komponen biotik sepertu tumbuhan yang tumbuh sangat beraneka ragam hal ini menyebabkan adanya perbedaan daya tahan tanah pada lingkungan tersebut, serta pada ekosistem interaksi antara komponen biotik dan abiotik kurang maksimal sehingga mengakibatkan tanah kutang subur dan menyebabkan terjadinya erosi. Temperatur tanah pada ekosistem alami lebih rendah dari pada temperatur tanah pada ekosistem buatan. Hal ini juga memppengaruhi jumlah spesies yang tumbuh pada tanah tersebut. serasah pada ekosistem alami lebih tinggi daripada serasah pada ekosistem batan, tidak hanya itu daya serap tanah pada ekosstem alami lebih tinggi sehingga dapat mencegah adanya erosi tanah pada lingkungan tersebut.
Dan perbedaan karakteristik antara komponen biotik pada ekosistem alami dan ekosistem buatan adalah pada ekosistem alami memiliki aktivitas organisme yang tinggi, diversitas tanaman, diversitas tanaman yang tinggi dibanding dengan ekosistem buatan. Pada ekosistem alami memiliki keanekaragaman yang sangat tinggi karena ketiga faktor tersebut, apabila suatu lingkungan memiliki aktivitas organisme yang tinggi maka keanekaragaman organisme tersebut akan tinggi dan sebaliknya apabila aktivitas organisme tersebut rendah maka keanekaragaman organisme pada lingkungan tersebut juga akan rendah. Hal tersebut belkau pada diversitas tanaman dan diversitas gen. Apabila kedua aspek tersebut tinggi maka akan terciptanya keanekaragaman yang tinggi pula. Dan sebaliknya.
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi. Kesatuan secara utuh tersebut berhubungan erat denga agroekologi dimana dalam agroekologi terjadi hubungan yang erat satu sama lain yang dapat mempengaruhi kedudukan komponen-komponen tang ada dalam lingkungan tersebut. Agroekosistem tersebut memiliki dampak positif dan dampak negatif. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek kehidupan. Agroekosistem sangat dekat dengan aktivitas pertania dimana konsep agroekosistem tersebut diaplikasikan dalam kehidupan manusia melalui aktivitas pertanian tersebut dan bahkan agroekosistem tersebut dapat dikatan sebagai ekosistem pertanian.
Agroekosistem (ekosistem pertanian) ditandai oleh komunitas yang monospesifik dengan kumpulan beberapa gulma. Ekosistem pertanian sangat peka akan kekeringan, frost, hama/penyakit sedangkan pada ekosistem alam dengan komunitas yang kompleks dan banyak spesies mempunyai kemampuan untuk bertahan terhadap gangguan iklim dan makhluk perusak. Dalam agroekosistem, tanaman dipanen dan diambil dari lapangan untuk konsumsi manusia/ternak sehingga tanah pertanian selalu kehilangan garam-garam dan kandungan unsur-unsur antara lain N, P, K, dan lain-lain. Untuk memelihara agar keadaan produktivitas tetap tinggi kita menambah pupuk pada tanah pertanian itu. Secara fungsional agroekosistem dicirikan dengan tingginya lapis transfer enersi dan nutrisi terutama di grazing food chain dengan demikian hemeostasis kecil.
            Kesederhanaan dalam struktur dan fungsi agroekosistem dan pemeliharaannya untuk mendapatkan hasil yang maksimum, maka menjadikannya mudah goyah dan peka akan tekanan lingkungan seperti kekeringan, frost, meledaknya hama dan penyakit dan sebagainya. Peningkatan produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang semakin meningkat akhir-akhir ini dihasilkan satu tehnologi antara lain : mekanisasi, varietas baru, cara pengendalian pengganggu, pemupukan, irigasi dan perluasan tanah dengan membuka hutan dan padang rumput. Semua aktivitas pertanian itu menyebabkan implikasi ekologi dalam ekosistem dan mempengaruhi struktur dan fungsi biosfer.
            Peningkatan hasil tanaman dimungkinkan melalui cara-cara genetika tanaman dan pengelolaan lingkungan dengan menyertakan peningkatan masukan materi dan enersi dalam agroekosistem. Varietas baru suatu tanaman dikembangkan melalui program persilangan dan saat akan datang dapat diharapkan memperoleh varietas baru melalui rekayasa genetika yang makin baik. Varietas baru mempunyai syarat-syarat kebutuhan lingkungan dan ini penting untuk diketahui ekologinya sebelum disebarkan ke masyarakat dengan skala luas.
            Pengelolaan lingkungan menimbulkan beberapa persoalan pada erosi tanah, pergantian iklim, pola drainase dan pergantian dalam komponen biotik pada ekosistem. Pada tahun 1977 State of World Environment Report (UNEP), memperingatkan bahwa, tanah yang dapat ditanami terbatas, hanya ± 11% permukaan bumi dapat diusahakan untuk pertanian. Secara total 1.240 juta ha untuk populasi 4.000 juta (rata-rata 0,31 ha/orang). Area ini pada tahun 2.000 akan tereduksi sampai hanya tinggal 940 juta ha dengan populasi penduduk dunia 6.250 juta.
Sehingga perbandingan lahan/orang tinggal 0,15 ha saja. Ini merupakan suatu peringatan dan memerlukan perhatian segera.
            Sebab-sebab semakin kecilnya tanah yang dapat ditanami antara lain :
1.      Pemotongan vegetasi/penggundulan sehingga tanah terbuka sehingga mudah tererosi air dan angin.
2.      Mekanisasi pertanian dan penggunaan pupuk organik yang menggemburkan tanah dan membuatnya peka terhadap erosi.
3.      Irigasi tanpa diimbangi dengan drainase yang mengakibatkan terbentuknya lapisan kedap air dan tanah menjadi kekurangan air. Lebih dari 300.000 ha tanah yang dapat ditanami dirugikan karena salinisasi dan kebanjiran setiap tahun.
4.      Pengerjaan tanah yang tidak memenuhi syarat dapat menyebabkan erosi.
5.      Urbanisasi.
Hal yang disebutkan di atas merupakan situasi yang dibuat oleh manusia dan dia sendiri sebenarnya dapat mengendalikannya atau mencegahnya melalui pengelolaan agroekosistem berdasarkan prinsip-prinsip ekologi. Studi ekologi ekosistem tanah pertanian disertai dengan pengetahuan autekologi tanaman dan gulma dengan dilengkapi watak pertumbuhannya dan sifat kompetitifnya. Hubungan tanaman-gulma pada tingkat intra dan antar spesies memerlukan informasi, yang berguna untuk praktek agronomi kita.
Hubungan tanah-tanaman merupakan aspek lain yang memerlukan data untuk pengelolaan subsistem tanah dalam maksud memulihkan tingkat kesuburan tanah yang maksimum. Pengetahuan pergantian komponen fisik, kimia dan biologi tanah pertanian di bawah pola tanam yang berbeda sangat penting untuk pengelolaan ekosistem. Penggunaan pupuk, pestisida dan herbisida berpengaruh terhadap ekosistem. Kebanyakan pestisida/herbisida merubah sifat fisik, kimia dan biologi subsistem tanah.
Beberapa bahan kimia mengalir ke kolam dan sungai dengan demikian mempengaruhi flora dan fauna ekosistem air tawar. Revolusi hijau dalam 1970 membawa pergantian pandangan pertanian kita. Siapnya tanah yang dapat diairi dan air pengairan menjadi tidak cukup dan sekarang hampir terjadi keduanya di daerah yang sama. Kesuburan jangka panjang tanah pertanian yang stabil (mantap) dibahayakan tidak hanya oleh pengetahuan yang sedikit tentang efek tekanan kimia, ekologi dan mekanisasi dalam intensifikasi tetapi juga tekanan populasi langsung antara lain overgrazing, penggundulan, penanaman di daerah dengan kemiringan yang berbahaya, urbanisasi tanah pertanian utama dan pengaruh sampingan langsung dan tidak langsung.
Agroekosistem adalah suatu sistem kawasan tempat membudidayakan makhluk hidup tertentu meliputi apa saja yang hidup di dalamnya serta material yang saling berinteraksi. Lahan pertanian merupakan arti agroekosistem secara luas, sehingga di dalamnya juga dapat pula dimasukkan hutan produksi dengan komoditas tanaman industri (HTI), kawasan peternakan dengan padang penggembalaan serta tambak-tambak ikan. Indonesia yang secara geografis terletak di wilayah yang beriklim tropis memiliki agroekosistem yang dapat digolongkan sebagai agroekosistem tropik. Agroekosistem ini adalah kawasan pertanian yang terletak di daerah tropika secara geografis ataupun vegetatif dan edafis (tanah) yang dipengaruhi oleh faktor iklim setempat (Jumil : 2002).
Dalam agroekosistem tersebut berbagai organisme dan materi yang saling berinteraksi dalam menunjang eksistensi dari agroekosistem tersebut. Selanjutnya Jumil (2002) mengemukakan bahwa agroekosistem yang terdapat dikawasan tropika memiliki beberapa karakteristik diantaranya suhu rata-rata harian yang relatif tinggi sepanjang tahun, tidak adanya musim dingin dan musim panas. Musim yang dikenal pada kawasan ini adalah musim hujan dan musim kemarau. Kedua musim ini dipengaruhi oleh arah angin dan letak pantai terhadap pegunungan (dataran tinggi) yang menghadang angin laut.
Berdasarkan imput teknologi dan pengelolaannya, agroekosistem dapat dibagi menjadi tiga jenis yakni; (1) agroekosistem tradisional (tradisional agroekosistem), merupakan agroekosistem dengan pembudidayaan sumber daya alam hayati adaptif setempat. Agroekosistem tipe ini tidak memerlukan masukan teknologi yang mengubah kondisi setempat secara drastis. Keanekaragaman hayati (biodiversitas)-nya dapat dipertahankan. Potensi produktivitasnya beragam, sesuai dengan kondisi sosial budaya dan ekosistem petani setempat; (2) agroekosistem konvensional (convensional agroecosystem), merupakan agroekosistem dengan masukan teknologi tinggi seperti pupuk buatan dan pestisida. Produktivitas biasanya tinggi dan sangat tergantung ketepatan penggunaan masukan teknologi bahan kimia tersebut secara alternatif manipulasi sistem yang memungkinkan untuk mencegah penurunan hasil: (3) agroekosistem berkelanjutan (sustainable agroecosystem) merupakan agroekosistem yang dikelola dengan memberikan masukan teknologi yang dapat mempertahankan tingkat produktivitas tinggi dan tidak atau sangat minim sekali dampak negatifnya terhadap lingkungan (Jumil : 2002).
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa di dalam agroekosistem tersebut terdapat komponen-komponen yang dapat menunjang eksistensi agroekosistem tersebut. Komponen yang dimaksud disini adalah biodiversitas (keanekaragaman hayati). Biodiversitas secara umum dapat diartikan sebagai keanekaragaman hayati atau sumber daya hayati termasuk di dalamnya adalah flora, fauna maupun mikroorganisme. Biodiversitas lahan pertanian dikenal dengan istilah agrobiodiversitas. Secara umum agrobiodiversitas merupakan semua komponen yang terdapat di lahan pertanian termasuk di dalamnya adalah semua organisme yang hidup di lahan pertanian dan memberikan fungsinya pada proses yang terjadi di lahan pertanian tersebut. Contoh organisme yang dimaksud disini seperti mikroba tanah dan fauna, gulma, herbivora dan karnivora yang berkoloni dan hidup sesuai dengan kondisi dan proses lingkungan yang berjalan, (Jackson et al: 2007).
Selain beberapa unsur yang telah disebutkan di atas, habitat maupun spesies yang terdapat di luar dari kawasan lahan pertanian yang mendukung proses pertanian dan menjalankan fungsi ekologis, juga dapat dimasukkan sebagai bagian dari agrobiodiversitas. Sesuai dengan hirarki dalam ekologi maka agrobiodiversitas dapat terdiri dari; (1) genetik dan karakterstik populasi, (2) komunitas, (3) keberagaman biota dalam hubungannya dengan proses biofisik dalam ekosistem dan (4) interaksi secara luas pada tingkat ekosistem baik termasuk interaksi antara ekosistem pertanian dan non pertanian. Agrobiodiversitas tidak hanya memiliki nilai yang dilihat dari sisi dalam proses produksi pertanian atau sebagai komponen yang penting dalam servis ekosistem, akan tetapi memiliki nilai sosial dalam kehidupan manusia, sehingga perlu ditelaah adanya hubungan antara nilai ekologi dengan nilai sosial dari agrobiodiversitas itu sendiri. Berdasarkan nilai ekologi dan sosial dari agrobiodiversitas tersebut maka dapat dilakukan usaha konservasi terhadap agrobiodiversitas.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Cheap Web Hosting | Top Web Hosts | Great HTML Templates from easytemplates.com.